What is so great about saying “Merry Christmas”?
Qusthan Abqary
It is interesting enough to read one article whose title is “Can Muslims say “Merry Christmas”?” written by Mahmudi Asyari and Muizzudin in The Jakarta Post, December 24th, 2008.
They wrote: “Since every December Indonesian Muslims face this issue, it is better that all religious leaders have a mutual understanding and an open dialog and so contribute to a conducive atmosphere for harmony and tolerance among the followers of different religions. In the matter of wishing “Merry Christmas”, Muslims should take all aspects comprehensively. Muslims can wish Christians “Merry Christmas” as if they were celebrating the birthday of another Prophet and Messenger whom Islam acknowledges.”
I note three points about their article which are (1) mutual understanding, (2) open dialog, and (3) Muslims allow saying “Merry Christmas” as long as they celebrate it only as the birthday of another Prophet and Messenger whom also ackowledges in Islam. All those three points refer to the sake of harmony and tolerance.
Some questions arise here. First, did not the existence of harmony among religious people in Indonesia never need that kind of saying since long time ago even before the declaration of independence? Did Pela Gandong in Sulawesi, for instance, give special order to all religious people in their common community to say “Merry Christmas” or other kinds of saying or wishing in regard to the existence of harmony? Does not harmony among religious people base on their own degree of religiousness to consider the others as human and need to be respected?
I am wondering why the campaign for saying “Merry Christmas” never be seen before but there are still so many harmonious and tolerant communities scattered on all over pre-Indonesia area.
Second, what is so great about tolerance? Y. B. Mangunwijaya (RIP), was reported, had ever asked to all monks in one banquet when they talked about the issue of tolerance. He arguably asked about the position of Mohammad, Jahwe, Moses, Buddha, and others God and Messenger in many religions in regard to their own Catholic’s safety road-map if they accept the issues of tolerance and pluralism.
I do agree if Muslims can wish “Merry Christmas” as if they were celebrating it just as one cultural event of other religious community as what happens in the West and were not celebrating the birthday of another Prophet and Messenger whom Islam acknowledges. What is so important to celebrating another Prophet’s and Messenger’s birthday?
Just let some different interpretations among Muslims as it is. There is no guarantee that present day interpretation of Islam will always be the trans-historical Truth (with capital T) just as Mahmudi Asyari and Muizzudin oppose Ibn Katsir’s interpretation.
Mahmudi Asyari and Muizzudin ought to realize that Islam and also Muslims all over the world do not have any single and authoritative organization which can make mutual understanding among ulema themselves though open dialog still can be does.
Open dialog has to always done though there are so many Islamic communities with their own kind of interpretations and school of thought. But it assumes not only the same degree of intelligence but also the similar standing points of all different religious communities. It is impossible to reach the same standing points among different religious communities because all religions base their own faith on different Gods and holy books.
Here comes the important of tolerance. Third, is tolerance just about the willing to wish “Merry Christmas” to the Christians? If it so, tolerance has been understood narrow-mindedly by some ridiculous people who claim that they are really religious. I think that the tolerance not just about wishing “Merry Christmas”, but progressively means, how to help the others to fulfil their basic needs without concerning their religions. On the other hand, the tolerance, passively means, how to be patience when facing other kind of differences as long as not harmful to ourselves and our faith.
In this case, Mahmudi Asyari and Muizzudin will be much better if they just let the different act among Muslims than campaign for their utopian dream of making mutual understanding among ulema all over the world and celebrating the birthday of another Prophet and Messenger.
I think that there is nothing so great about saying “Merry Christmas” because pre-Indonesia’s history shows that that kind of saying or wishing never exist before to guarantee the existence of the previous tolerant and harmonious communities. Even so I still say “Merry Christmas” to the others base on my own perception that Christmas can be positioned as one cultural event and I can enjoy it on that way. Do not religions also about culture?
Profesor Malin Kundang
Qusthan Abqary
“Saya gumun sama profesor-profesor jebolan Amerika yang jadi agen-agen neolib di sini. Masak yang tadinya profesor ekonomi, kemudian jadi menteri keuangan, lantas sekarang malah jadi menteri pendidikan?! Padahal dulu dia pas masih jadi menteri keuangan di kabinetnya Pak Kyai, adalah orang yang paling getol mengampanyekan agar pemerintah membuka jalur kerjasama lagi dengan IMF. Hal ini turut memperkuat asumsi saya sebelumnya bahwa siapa pun presidennya, agenda neolib tetap berjalan karena menteri-menterinya adalah agen neolib. Sekarang dia kok malah jadi menteri pendidikan. Kompetensinya dari mana? Kalau latar belakangnya pedagogi gak apa-apa lah. Ini malah profesor ekonomi. Jadi gak heran kalau pendidikan jadi bakulan.”
“Loh, bukannya kamu pernah bilang kalau menteri pendidikan yang bagus itu cuma tiga orang? Dewantara, Joesoef, dan Hasan? Nah, yang kedua kan dulunya juga profesor ekonomi to?”
“Dia tentu berbeda. Meskipun gelar profesornya didapat ketika mengabdi di fakultas neolib, dia punya visi pendidikan yang bagus, bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Kalo sekarang kan entitas ‘kebudayaan’ dipisahkan secara tegas dari pendidikan. Buktinya, nama departemennya cuma Depdiknas, sementara kebudayaan di-merger sama pariwisata. Jadi sekarang yang namanya ‘kebudayaan’ cuma ngurusin plesir, hehehehe….”
“Sebentar. Sebagian orang yang mengusulkan agar istilah kebudayaan dilepaskan dari rangkaian nama DepDikBud adalah para profesor pendidikan juga lo.”
“Iya, karena semangat zaman pada awal Reformasi memang menggiring untuk ke sana. Tapi ingat, mereka yang mengusulkan penghapusan istilah ‘kebudayaan’ pada akhirnya juga tetap sepakat dengan tesis bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan.”
“Itu pun, kampanye plesirnya sok-sok-an pake Bahasa Inggris, tapi dikritik orang karena terjadi kesalahan structure and grammar. Kata orang, seharusnya bukan Visit Indonesia Year, tapi ada yang ngusulin Visiting Indonesia Year, Indonesia’s Visiting Year, Year of Visiting Indonesia, dan Indonesia Visit Year. Gak tahu deh mana yang bener. Mosok arep nggawe slogan wae kudu nganggo boso Inggris. Slogan kudune yo tetep boso Indonesia tapi mengko di-Inggris-ke nek misale promosi neng jobo. Niate melu-melu Malaysia nganggo boso Inggris tapi malah wagu.”
“Tidak hanya itu. Pembangunan Trowulan, misalnya, masak bangun pondasi di sumur tua bekas Majapahit. Itu kan malah merusak, bukan melestarikan. Kalau menurut Pak Joesoef: “Pembangunan “Pusat Informasi Masyarakat” (PIM) di lokasinya yang sekarang, dengan merusak situs sejarah, betapapun kecilnya, bisa saja dianggap sebagai rekreatif, tetapi pasti tidak layak disebut edukatif. Kalau toh dilanjutkan di lokasinya yang sekarang, ia akan menjadi blunder yang sama dengan yang pernah dilakukan Bung Karno, yaitu merobohkan Gedung Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur demi mendirikan suatu gedung yang “megah” secara teknis di atas puing-puingnya. Hanya keledai yang terpeleset di tempat yang sama dua kali!”
“Aku pun baca tulisan itu. Bahkan Pak Joesoef kan juga menegaskan di bagian akhir tulisannya itu bahwa: “Akhirnya, perlu saya ingatkan bahwa insiden situs Majapahit dan blunder serupa lainnya merupakan akibat logis dari dipisahkannya “kebudayaan” dari “pendidikan”". Artinya, salah satu simpul persoalan terletak pada di sektor pendidikan. Di sisi lain, para demonstran yang concern dengan isu pendidikan jarang sekali mengaitkannya dengan kebudayaan. Mereka hanya berkutat di persoalan kenaikan biaya pendidikan. Hal ini sangat disayangkan.”
“Sudah sering kubilang sama demonstran-demonstran itu. Mbok ya sekali-kali kalo demo jangan di Bunderan, tapi sekalian ke rumah menteri. Sabtu pagi kan dia sering terbang ke Yogya. Kalau perlu, sekalian buat FGD sama warga di sekitar rumahnya untuk mewacanakan pendidikan yang semakin mahal. Mereka tentu heran mengapa biaya sekolah anak-anak mereka mahal, tapi jarang sekali yang sadar bahwa kurang dari sepelemparan batu dari rumah masing-masing, justru terdapat orang nomor satu di DepDikNas, yang seharusnya memperjuangkan pendidikan murah bagi seluruh warga negara termasuk tetangga dekatnya. Itulah salah satu manifestasi gerakan mahasiswa sejati yang koheren dengan kebudayaan, huehehehehe….”
“Dunia universitas di sini memang hampir flat. Dari dulu sampai dengan sekarang fakultas tempat Pak Joesoef mengajar selalu berkait dengan yang namanya Mafia Berkeley. Tapi sekarang, fakultas yang dulunya terkenal dengan gagasan Ekonomi Pancasila malah diisi oleh sebagian besar dosen yang pro Ekonomi Liberal. Sekolah tinggi-tinggi sampe dapet gelar doktor dan kemudian dipromosikan jadi profesor, tapi kok malah jadi Malin Kundang buat ibu pertiwi, hehehe…”
“Makanya baca buku saya yang berjudul Potret Ekonom sebagai Malin Kundang, hehehe….”
“Buku?! Bukannya itu cuma stensilan? Hehehehe…”
Tiba-tiba terdengar senandung lagu dari band Panas Dalam yang diputar oleh pengelola warung kopi.
Intro yang berisikan alunan khas a la Minangkabau mengawali:
Masih kuingat
Satu bulan yang lalu
Jaga gengsimu
Kau usir ibumu
Masih kuingat
Aku saksi hidupmu
Kau dikutuk ibuuu….
Menjadi batuuu…
Malin Kundang kau kukenang selalu
Dan masih kusimpan puisimu
Malin Kundang buruk nian nasibmu
Memiliki ibu yang temperaaamental
Lalala…lalala…lalala…
Kini dirimu
Telah menjadi batu
Hatiku pilu
Mengenang dirimu
Malin Kundang kau kukenang selalu
Dan masih kusimpan puisimu
Malin Kundang buruk nian nasibmu
Memiliki ibu yang temperaaamental
Malin Kundang kini kau tergenang
Banyak beredar buku tentaangmu
Aku bangga pernah bersamamu
Mungkin kau terkenal bila tak durhaka
Lalala…lalala…lalala…
Kini dirimu
Telah menjadi batu
Sedang diriku
Menjadi babu
Malin Kundang andai masih hidup
Saudagar kaya yang foya-foya
Tentu bangga menjadi temanmu
Minta bantu modal bikin rumah makan
Lalala…lalala…lalala…
Kedua mantan pegiat pers mahasiswa itu pun hanya tertawa tergelak.
***
Malam di Ilmenau
Qusthan Abqary
Hembusan angin pada awal musim panas masih terasa dingin bagi mereka yang tidak berasal dari iklim subtropis. Rerumputan musim panas sudah tumbuh setengah meter mendampingi rel. Gradasi cahaya matahari menggiring manusia pada kebimbangan akan waktu. Jauh berbeda dengan Jum’at di wilayah tropis.
“It’s usual for us in Moscow in this weather. So I just need this sweater[1],” ujar seorang mahasiswa Rusia secara angkuh. Ia hanya mengajak bicara mahasiswi Wina asal Bosnia itu dengan bahasa Inggris yang seadanya.
“But we weren’t born and growth in Moscow. And it’s clear enough why we’re using more clothes than you[2],” sanggah mahasiswi tersebut kesal.
Hasan dan seorang mahasiswa Nigeria, yang selalu mengikutinya sejak di kereta Intercity dari Frankfurt hingga berganti kereta beberapa kali, hanya tersenyum sinis mendengar hal tersebut. Setiap sanggahan berarti tamparan untuk mahasiswa Rusia yang angkuh itu. Padahal, mereka berempat bertemu di stasiun kecil setelah Erfurt dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Sebelumnya, mahasiswa Rusia itu hampir membuat mereka tersesat jika Hasan dan mahasiswi Bosnia tidak bersikukuh untuk menolak sugestinya.
Kereta kecil dua gerbong itu berhenti di stasiun kecil yang terhubung dengan halte bus kecil. Hanya gulita yang menemani gelap malam. Di dalamnya nampak siluet dua orang lelaki yang bergegas mendekati kereta kecil itu.
“Are all of you ISWI[3]’s participants? If yes, please put your luggages on the car and we’ll walk to the campus for check in[4],” seru seorang gimbal berpirsing di telinga kiri dengan aksen kaku khas Jerman. Gayanya mirip Zack de la Rocha mantan vokalis Rage Against The Machine jika tidak membolongi sebagian daging di daun telinganya.
Mereka harus berjalan kurang-lebih satu kilometer menyusuri jalan-jalan kecil menuju Mensa[5] untuk check in. “Gila..orang capek-capek gini masih disuruh jalan kaki?!” gumam Hasan di dalam hati karena tidak ada mahasiswa Indonesia yang tiba bersamanya. Hanya rasa penasaran, sedikit kegilaan, ditambah unsur nekat yang memberanikan dirinya untuk terbang puluhan ribu mil melintasi samudera menuju kota kecil nan bersejarah itu seorang diri, terpisah dari rombongan Indonesia.
*
Ilmenau, kota kecil di dekat Erfurt yang menjadi ibukota negara federal Thüringen, merupakan bekas wilayah dari Jerman Timur. Kota ini menyimpan sejarah yang tak kurang fenomenal.
Pada musim panas 1923, berlangsung Erste Marxistische Arbeitswoche[6] di Jerman yang didanai oleh Felix J. Weil, seorang Yahudi-Jerman yang mewarisi banyak harta dari kedua orangtuanya.
Tercatat beberapa nama seperti George Lukács, Karl Korsch, Richard Sorge, Karl August Wittgofel, hingga Friedrich Polloch hadir di dalam pertemuan itu.
Weil di kemudian hari dikenal sebagai sponsor tunggal bagi pendirian Institut für Sozialforschung[7], Johan-Wolfgang/Frankfurt am Main Universität, yang banyak melahirkan pemikir besar seperti Theodor Adorno, Herbert Marcuse, hingga Jürgen Habermas.
Banyak bangunan tua yang masih mengesankan nuansa Marxisme-Leninisme. Terlebih ketika dilihat di malam hari. Ilmenau lebih nampak seperti kota mati. Di tengah taman kota, terdapat monumen bertuliskan DEN ILMENAUER OPFERN DES NATIONALSOZIALISMUS[8]. Di pinggir taman, tepatnya di dinding balai kota tertempel pengumuman mencolok mengenai perayaan 800 tahun kelahiran Saint Elisabeth yang diselenggarakan oleh pemerintah federal Thüringen bekerjasama dengan pemerintah federal Hesse, khususnya dengan kota Marburg, yang dulunya juga menjadi bagian dari Thüringen.
Thüringen berada di tengah Jerman, memiliki populasi 2,3 juta penduduk yang tersebar di area seluas 16.172 km². Istilah Thüringen mengacu pada Kerajaan Toringi yang berdiri pada tahun 400 SM. Thüringen mencakup beberapa kota penting dan pemikir berpengaruh. Weimar erat kaitannya dengan Goethe. Eisenach adalah tempat kelahiran Bach. Wartburg merupakan tempat di mana Marthin Luther menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman.
**
Lampu jalan menyala remang, meski masih membuat sekeliling jelas terlihat. Rombongan harus berjalan memutari stasiun, melewati halte, kemudian menyusuri rel kereta hingga bertemu warung kebab Turki yang masih buka hingga larut. Terlihat beberapa lelaki setengah baya dengan jambang dan jenggot sedang asyik bersenda gurau di dalamnya.
Seolah khilaf bahwa di negara bagian yang lain akan dilangsungkan G8 Summit 2007[9]. Hasan selalu berpikir nakal, “Seandainya panitia konferensi berkenan untuk memobilisasi 300an peserta yang berasal dari 100an negara di seluruh dunia, maka para aktivis NGO yang membuat acara tandingan bagi G8 Summit akan sangat terbantu, sekurangnya secara moril.”
Kurang-lebih 100 meter setelah warung kebab, terdapat pertigaan. Rombongan berbelok kiri dan masih harus menyusuri 500 meter sisa jalan menuju Mensa.
Jam dinding di Mensa menunjukkan pukul 11.50 malam waktu setempat. Hasan menahan kantuk dan lelah karena double jet lag yang mendera. Penerbangan internasional yang transit selama sepuluh jam di Abu Dhabi terlalu sedikit untuk membantu tubuh beradaptasi, sekaligus terlalu banyak untuk sekedar memulihkan tenaga. Penghangat ruangan di Mensa memaksa Hasan untuk kembali mengumpulkan tenaga.
„Wir sind Hausherr, in Vertretung von Wiebke Jensen. Wir haben kein Gast. Können wir nehmen ihm als uns Gast?[10]“, tanya dua orang mahasiswi yang tiba-tiba berdiri di sebelah Hasan kepada panitia yang sedang duduk melihat daftar peserta.
„Wir haben für vier Uhrzeit gewarten,[11]” imbuh seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di samping mahasiswi tadi.
Panitia gemuk yang membaca daftar peserta menjawab, „Es tut mir Leid. Sie sind sich verspäten und sind die erste Gruppe gekommen.[12]“
„Was soll es sein? Man oder Frau?[13]”
„Wer auch immer.[14]“
Rauchen oder nicht rauchen[15]?”
Salahsatu dari kedua perempuan membalas, „Nicht rauchen[16].”
Tiba-tiba si gendut itu bertanya kepada Hasan, “What kind of host do you want? Man or women[17]?” Tanpa mengabaikan mahasiswa Nigeria yang berdiri antri di depan Hasan.
“Whatever[18],” jawab Hasan pragmatis. Yang ia inginkan hanya tidur, meski sebelumnya sempat heran mengapa panitia tidak mendahulukan mahasiswa Nigeria yang antri di depannya.
“Smoking or not[19]?“
“Not smoking[20],” walau Hasan seorang perokok. Ia berusaha untuk sama sekali tidak merokok di dalam konferensi ini. Berharap tidak lagi merokok ketika kembali ke Indonesia.
“Okay. They are your host. And please fill this form, both of you and your host[21].”
“Thank you[22],” jawab Hasan dengan sisa tenaga.
“Hi, my name is Katja. And she is…[23]“, sapa seorang mahasiswi berambut panjang dengan ramah.
“Janin,” sela mahasiswi berambut a la Demi Moore yang berdiri tepat di samping Katja.
“I am Hans. Let me bring your luggage so you can fill this form and then we can take you home[24],” tawaran kongkrit datang dari lelaki tadi.
“He is Janin’s boyfriend,” Katja memotong untuk menjelaskan. Janin dan Hans hanya tersipu.
“No, you don’t have too. I can bring it. Let’s fill the form. Do you have any pen?[25]“, sanggah Hasan dengan nada ewuh. Walau orangtuanya bukan etnis Jawa, Hasan terpengaruh oleh tradisi ewuh pakewuh. Barangkali karena sedang studi di Yogyakarta.
Setelah mereka menyelesaikan administrasi, ketiganya langsung menuju parkiran. Hasan beruntung, host yang didapatnya membawa mobil untuk ke apartemen. Udara dingin kembali menyerang.
Sebuah mobil bermerk Volkswagen membawa mereka berempat ke arah yang tadi telah dilewati Hasan. Hasan melihat ke tanda pengenal yang diberikan panitia:
Wiebke Jensen
Poststraβe 21, 98693 Ilmenau
0178 455 1056
“Why Jensen did not come with you to pick me up[26]?”, tanya Hasan curiga.
“He is not in Ilmenau now. He went to his parent’s home two days ago for vacation. He’ll be back in the next few days[27],” Katja menjelaskan.
Rasa curiga Hasan takluk oleh rasa letih bercampur jam biologis yang kacau balau karena double jet lag.
“Buukkk…,” suara ban mobil menghantam trotoar. Hasan hanya hening dan berharap semoga tidak ada masalah, dengan mobil maupun dirinya nanti. “Sory, I didn’t see it[28],” Hans mencoba menenangkan tamunya. Minimnya sinar lampu jalan mampu menipu orang lokal.
Hasan menatap sebuah bangunan lima lantai yang lebih mirip dengan gedung kosong berhantu. Atau gedung bekas tempat pembantaian bagi musuh rejim komunis yang berkuasa pada paruh abad yang lalu.
“This is our flate. It looks bad from the outside but good enough on the inside. I hope you won’t be scare[29],” Janin berusaha meyakinkan Hasan dengan nada guyon.
“Hehehehe….Don’t worry. It’s good enough for me[30],” Hasan menyambut gayung guyon yang diayunkan.
Satu, dua, tiga lantai mereka naiki. Katja bergegas menuju pojok. Satu dari tiga pintu dia buka dengan cepat. Satu lorong panjang sekitar 2,5 meter diapit oleh kamar mandi basah dan kamar mandi kering berada di balik pintu. Lorong pertama ini berhimpit dengan lorong lain yang membujur. Satu pintu kamar, yang dihuni oleh Katja, hampir membentuk tusuk sate. “Hmm..,” gumam Hasan pelan.
Lorong kedua menghubungkan kamar Janin dengan kamar Jensen dan dapur. Di samping kamar Janin terdapat kamar Anna. Di antara kamar Katja dan Jensen terdapat kamar Maria. Hans hanya berkunjung untuk beberapa hari guna berlibur bersama Janin.
“There are only us this night. You can use Maria’s room. But she will be back on Wednesday and then you’ve to sleep in the kitchen. Don’t worry, we’ll give you the mattress[31],” Janin berusaha ramah.
“No, I bring my own sleeping bag[32],” Hasan menyanggah dengan maksud agar tuan rumahnya tahu bahwa ia sedari awal sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.
“Okay,” jawab Janin.
“Do you want to make phone call to tell your family that you already arrive safely?[33]“, Katja seolah turut mengimbangi keramahan Janin sebagai tuan rumah. Tak lama berselang, Janin dan Hans pamit untuk beristirahat setelah membantu memindahkan barang bawaan Hasan ke kamar Maria.
“Yes, I do. But it would be better if I can just send an sms. I am afraid that I’ll disturb them if I make a phone call[34],” tawaran lain datang dari Hasan.
Katja mengeluarkan Siemens miliknya dan Hasan mulai mengetik:
“Bang sudah sampe.
Ini no hp tuan rumah.
Gak usah dibalas.
Maaf ganggu. Hasan.”
Hasan memasukkan nomor +6285292000174.
“Okay, thank you[35].“
“You’re welcome[36].”
Can I use the bathroom? I want to clean myself and then take a rest, if you don’t mind[37],” Hasan memohon.
“Just use it. Please enjoy yourself and feel like at home[38],” ujar Katja sembari tersenyum manis.
Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 waktu setempat. Namun, tubuh Hasan masih kacau dalam merespon perubahan waktu. Selimut yang tersedia di kasur tidak cukup untuk menahan serangan dingin. Hasan dipaksa sengatan dingin untuk menggunakan sleeping bag TNI yang dijual bebas di depan KKO Marinir Cilandak seharga Rp 85.000,-
Pintu kamar Maria yang digunakan Hasan, entah mengapa, tidak dapat dirapatkan. Terlihat sosok Katja, menggunakan daster putih, berdiri di depan kamar sembari memastikan apakah tamunya sudah terlelap atau belum. Perlahan, ia melangkah dengan pasti ke dalam kamar. Dalam sekejap, dingin malam pada awal musim panas di Ilmenau telah berubah menjadi kehangatan cuaca tropis.
***
Ilmenau, Juni 2007; Yogyakarta, Januari 2009.
[1] “Cuaca ini biasa bagi kami di Moskow. Jadi, saya hanya butuh sweater ini.”
[2] Tetapi kami tidak lahir dan besar di Moskow. Dan itu sudah cukup menjelaskan
mengapa kami kini menggunakan pakaian lebih tebal daripada kamu.”
[3] International Student Woche in Ilmenau.
[4] “Apakah kalian semua peserta ISWI? Jika ya, silahkan taruh tas dan barang-barang
Anda ke dalam mobil dan kita akan berjalan ke kampus untuk check-in.”
[5] Kantin.
[6] Pekan Marxis Pertama.
[7] Institut Studi Sosial.
[8] Monumen Peringatan Orang-orang Korban Nazi di Ilmenau.
[9] KTT G8.
[10] “Kami salahsatu tuan rumah, atas nama Wiebke Jensen. Kami belum mendapat peserta untuk ditumpangi. Dapatkah kami menjadikan dia sebagai tamu kami?”
[11] “Kami sudah menunggu sejak empat jam yang lalu.”
[12] “Maafkan saya. Mereka terlambat sekaligus kelompok pertama yang baru datang.”
[13] “Siapa yang kamu inginkan? Laki-laki atau perempuan?”
[14] “Siapapun.”
[15] “Merokok atau tidak merokok?”
[16] “Tidak merokok.”
[17] “Siapa host yang kamu inginkan? Laki-laki atau perempuan?”
[18] “Siapapun.”
[19] “Merokok atau tidak?”
[20] “Tidak merokok.”
[21] “Oke. Mereka host-mu. Dan tolong isi formulir ini, baik kamu maupun host-mu.”
[22] “Terima kasih.”
[23] “Hai, nama saya Katja. Dan dia…”
[24] “Saya Hans. Biar saya bawa barang-barangmu agar kamu dapat mengisi formulir ini dan kemudian kami dapat membawa kamu ke rumah.”
[25] “Tidak, tidak usah. Saya dapat membawanya. Mari kita isi formulirnya.
Apakah kamu punya pulpen?”
[26] “Kenapa Jensen tidak ikut bersama kalian untuk menjemput saya?”
[27] “Dia sedang tidak di Ilmenau sekarang. Dia pulang ke rumah orangtuanya
untuk berlibur sejak dua hari yang lalu. Dia akan kembali dalam beberapa hari
ke depan.”
[28] “Maaf, saya tidak melihatnya.”
[29] “Ini flat kami. Kelihatannya memang jelek dari luar tetapi di dalamnya
cukup bagus. Saya harap kamu tidak akan takut.”
[30] “Jangan khawatir, ini cukup bagus untuk saya.”
[31] “Hanya ada kita malam ini. Kamu dapat menggunakan kamar Maria. Tapi dia akan
kembali pada hari Rabu dan kemudian kamu harus tidur di dapur. Jangan khawatir,
kami akan memberikan kamu kasur.”
[32] “Tidak, saya membawa sleeping bag.”
[33] “Apakah kamu ingin menelepon keluargamu untuk memberitahu bahwa kamu sudah sampai dengan selamat.”
[34] “Ya, tentu saja. Tapi akan lebih baik kalau saya hanya mengirim sms. Saya
khawatir akan mengganggu mereka kalau menelepon.”
[35] “Oke, terima kasih.”
[36] “Sama-sama.”
[37] “Dapatkah saya menggunakan kamar mandi? Saya ingin membersihkan diri dan kemudian
beristirahat, kalau kamu tidak keberatan.”
[38] “Gunakan saja. Santai dan anggap seperti di rumah sendiri.”
Apa itu Fasisme Ilmu?
Qusthan Abqary[1]
- Fasisme – layaknya dalam bidang politik – dipahami sebagai paham yang percaya bahwa tidak ada hal lain di luar dirinya yang lebih unggul. Sedangkan ilmu dipahami secara longgar, yaitu ilmu alam atau science sekaligus ilmu sosial atau social sciences. Istilah fasisme ilmu diperkenalkan oleh Paul Feyerabend – promovendus Karl Popper yang di kemudian hari menjadi “malin kundang” – dalam bukunya Against Method sebagai fascism of science dan hanya terbatas pada ilmu alam. Dengan kata lain, fasisme ilmu dapat dipahami sebagai situasi dan kondisi keilmuan yang percaya bahwa ilmu – baik ilmu alam maupun ilmu sosial – sebagai bentuk pengetahuan yang paling unggul dibandingkan dengan bentuk pengetahuan lain, entah astrologi, mitos, voodoo, santet, pelet, dan sebagainya.
- Kelonggaran penggunaan istilah ilmu lebih dikarenakan persoalan teknis kebahasaan (lihat halaman 45-50 dalam buku Melawan Fasisme Ilmu[2]) yang belakangan justru diikuti oleh kata science itu sendiri; tanpa bermaksud mengesampingkan persoalan konseptual yang dikandungnya. Di satu sisi, hal ini boleh jadi dipengaruhi oleh ambisi sebagian ekonom untuk menjadikan studi ekonomi sebagai golongan dari science layaknya ilmu alam, sementara bidang ilmu humaniora/sosial lainnya dianggap oleh sebagian orang sebagai belum layak untuk digolongkan sebagai science. Di sisi lain, sebagian pemikir menggunakan istilah science secara longgar untuk beberapa bidang keilmuan seperti science of heavens (Al Farabi/Seyyed Hossein Nasr), hingga menggolongkan mysticism as a science (Amaury de Riencourt). Dan pengetatan penggunaan istilah science hanya pada ilmu alam bukan tidak mungkin dipengaruhi oleh proyek empirisisme/positivisme.
- Feyerabend membangun anything goes melalui beberapa runtutan atau rangkaian argumen yang tak dapat dipandang secara terpisah. Pada awalnya, Feyerabend ingin mengkritisi standar penelitian dengan cara melakukan riset yang melanggar standar itu sendiri. Menurutnya, dalam mengevaluasi riset tersebut kita boleh berpartisipasi hanya dalam praktik yang tak ditentukan (unspecified) dan tidak dapat ditentukan (unspecifiable). Dari sini, Feyerabend mengklaim bahwasanya akan diperoleh hasil berupa: “riset yang menarik dalam khazanah ilmu-ilmu kerapkali mengarah pada revisi yang tak terkira mengenai standar-standar walau ini bukanlah niatan awalnya”. Meski demikian, Feyerabend tak lupa untuk memberikan penekanan bahwa anything goes bukanlah satu-satunya prinsip sebuah metodologi baru yang direkomendasikannya. Anything goes hanyalah upaya untuk menjalankan standar universal dari ilmu secara sungguh-sungguh, dan bertujuan untuk memahami sejarah ilmu, meski untuk yang terakhir ini Feyerabend tidak memberikan penjelasan yang komprehensif mengenainya (lihat halaman 27-8).
- Bagi sebagian orang, gagasan Feyerabend mengenai anything goes dianggap ngawur, ngeyel, hingga relativistik. Namun, bagi sebagian orang yang lain justru dipahami sebagai “…membuka pintu bagi bermacam-macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu (lihat halaman 11). Perbedaan reaksi dan respon terhadap pemikiran Feyerabend tentu tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari asumsi ontologis dan epistemologis seseorang dalam memandang ilmu. Relativisme bagi sebagian orang dipandang secara monolitik, sementara bagi sebagian orang yang lain memiliki keragaman jenis (Bruno de Latour). Sebagian yang lain bahkan menganggap bila kita percaya bahwa hanya Tuhan yang absolut, maka, sisanya menjadi relatif (bergantung pada Tuhan). Dan pemahaman relativisme sebagai paham yang percaya bahwa tidak ada otoritas sama sekali hanya menyisakan ketidaktahuan atas pemahaman bernada kebahasaan seperti related to (bergantung pada) guna memeroleh makna lain dari relativisme.
- Manifestasi (paling kongkrit) atas fasisme ilmu ialah respon reaksioner Amerika Serikat terhadap integrasi akupungtur ke dalam rumah sakit dan universitas di Cina pada dekade tahun 70an. Feyerabend pada masa itu justru mengadvokasi proyek integrasi akupungtur dan herbal di Cina. Kini justru sebagian besar praktik kedokteran di seluruh dunia turut berupaya mengintegrasikan metode pengobatan “modern” dengan “tradisional” a la akupungtur. Di belahan dunia yang sama, tepatnya India, justru mengalokasikan US$ 40.000.000,- untuk proyek berjudul Golden Triangle Partnership yang bertujuan mengeksplorasi dan mengintegrasikan pengobatan tradisional yang terdapat di dalam Ayurweda (lihat halaman 74 atau Economist, “Growing Wiser: India is testing its traditional medicines”, 16 Agustus 2007). Ironisnya, produk kesehatan tradisional seperti jamu justru tidak diintegrasikan ke dalam rumah sakit maupun universitas di Indonesia, meski sebelumnya sebuah universitas pernah membuka program diploma jamu dan kemudian ditutup tanpa alasan yang memadai. Sementara sebagian dokter yang praktik di Indonesia justru mempraktikkan akupungtur, herbal, naturopati, anthroposophical medicine yang kemudian ditemukenali sebagai “metode pengobatan komplementer” (saya bukan tukang obat jadi silahkan lihat Koran Tempo, “Tren Pengobatan Komplementer”, 18 Januari 2009).
- Lantas, apakah Feyerabend sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa ilmu (sebagai dirinya sendiri) akan menghasilkan atau bahkan meningkatkan kebebasan individu? Ilmu ialah bentuk pengetahuan sistematis yang memiliki wajah ganda, yang lebih tepat jika dipahami sebagai sesuatu yang berproses dalam gerak sejarah daripada sebagai barang jadi yang paling unggul. Kebebasan individu memiliki sifat elusif dan terbagi menjadi dua pengertian yaitu secara positif dan negatif yang memiliki keterbatasan tertentu. Anything goes sebagai sudut pandang penelitian berada di dua ranah kebebasan. Sisi eksternal anything goes berkait dengan kebebasan positif dan sisi internal berkait dengan kebebasan negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam perspektif anything goes, ilmu dapat meningkatkan kebebasan individu dengan situasi yang unik dan khas karena terkait dengan pemaknaan terhadap ilmu yang berwajah ganda maupun sifat kebebasan individu yang elusif dan terbagi menjadi dua hal, yaitu secara positif dan negatif. Selain itu, perlu untuk membedakan antara asumsi idealistik Feyerabend mengenai ilmu dengan perkembangan ilmu pada masa ketika anarkisme epistemologi muncul. Secara ideal, Feyerabend masih menyisakan kepercayaan bahwa ilmu dapat meningkatkan kebebasan individu, baik individu ilmuwan maupun masyarakat awam, jika ilmu tidak lebih superior dan diposisikan setara dengan pelbagai bentuk tradisi pengetahuan lainnya. Namun, dalam kenyataannya justru sebaliknya. Banyak ilmuwan yang tergelincir pada metodologisme, fasisme ilmu dan chauvinisme ilmu, serta parahnya lagi terkungkung oleh scientism. Fenomena ini terjadi di tingkatan global, nasional maupun lokal seperti yang telah ditunjukkan dalam beberapa bab sebelumnya (lihat halaman 121-2).
- Pertanyaan yang membandingkan antara fasisme ilmu dengan krisis ilmu maupun sebaliknya, dalam batas tertentu dapat disebut sebagai sesat dan menyesatkan, terutama ketika tidak mencermati fasisme ilmu maupun krisis ilmu secara lebih spesifik dan mendalam, karena gagasan Feyerabend maupun Kuhn memiliki intensi yang berbeda. Bila Feyerabend melalui argumen preskriptifnya mendambakan magi, vodoo, dan astrologi dapat mengakses atau diajarkan di dalam sistem pendidikan dan setiap peserta didik dibebaskan untuk memilih mode pengetahuan yang akan dianut serta dipelajarinya; maka Kuhn dengan argumen deskriptifnya secara tidak langsung justru mengakui untuk tidak memberikan akses terhadap pelbagai mode pengetahuan untuk masuk ke dalam sistem pendidikan karena deskripsi historisnya tetap mengandaikan ilmu sebagai satu-satunya mode pengetahuan yang eksis dan setelah krisis memiliki tiga ekses yang berbeda.
[1] Disampaikan dalam diskusi mingguan Cak Tarno Institute pada Sabtu, 24 Oktober 2009.
[2] Selanjutnya mengacu pada buku yang sama karena diskusi pada kesempatan ini memang dikhususkan untuk membahas buku Melawan Fasisme Ilmu.