Malam di Ilmenau

November 18, 2009 at 2:37 pm (Uncategorized)

Qusthan Abqary

Hembusan angin pada awal musim panas masih terasa dingin bagi mereka yang tidak berasal dari iklim subtropis. Rerumputan musim panas sudah tumbuh setengah meter mendampingi rel. Gradasi cahaya matahari menggiring manusia pada kebimbangan akan waktu. Jauh berbeda dengan Jum’at di wilayah tropis.

It’s usual for us in Moscow in this weather. So I just need this sweater[1],” ujar seorang mahasiswa Rusia secara angkuh. Ia hanya mengajak bicara mahasiswi Wina asal Bosnia itu dengan bahasa Inggris yang seadanya.

But we weren’t born and growth in Moscow. And it’s clear enough why we’re using more clothes than you[2],” sanggah mahasiswi tersebut kesal.

Hasan dan seorang mahasiswa Nigeria, yang selalu mengikutinya sejak di kereta Intercity dari Frankfurt hingga berganti kereta beberapa kali, hanya tersenyum sinis mendengar hal tersebut. Setiap sanggahan berarti tamparan untuk mahasiswa Rusia yang angkuh itu. Padahal, mereka berempat bertemu di stasiun kecil setelah Erfurt dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Sebelumnya, mahasiswa Rusia itu hampir membuat mereka tersesat jika Hasan dan mahasiswi Bosnia tidak bersikukuh untuk menolak sugestinya.

Kereta kecil dua gerbong itu berhenti di stasiun kecil yang terhubung dengan halte bus kecil. Hanya gulita yang menemani gelap malam. Di dalamnya nampak siluet dua orang lelaki yang bergegas mendekati kereta kecil itu.

Are all of you ISWI[3]‘s participants? If yes, please put your luggages on the car and we’ll walk to the campus for check in[4],” seru seorang gimbal berpirsing di telinga kiri dengan aksen kaku khas Jerman. Gayanya mirip Zack de la Rocha mantan vokalis Rage Against The Machine jika tidak membolongi sebagian daging di daun telinganya.

Mereka harus berjalan kurang-lebih satu kilometer menyusuri jalan-jalan kecil menuju Mensa[5] untuk check in. “Gila..orang capek-capek gini masih disuruh jalan kaki?!” gumam Hasan di dalam hati karena tidak ada mahasiswa Indonesia yang tiba bersamanya. Hanya rasa penasaran, sedikit kegilaan, ditambah unsur nekat yang memberanikan dirinya untuk terbang puluhan ribu mil melintasi samudera menuju kota kecil nan bersejarah itu seorang diri, terpisah dari rombongan Indonesia.

*

Ilmenau, kota kecil di dekat Erfurt yang menjadi ibukota negara federal Thüringen, merupakan bekas wilayah dari Jerman Timur. Kota ini menyimpan sejarah yang tak kurang fenomenal.

Pada musim panas 1923, berlangsung Erste Marxistische Arbeitswoche[6] di Jerman yang didanai oleh Felix J. Weil, seorang Yahudi-Jerman yang mewarisi banyak harta dari kedua orangtuanya.

Tercatat beberapa nama seperti George Lukács, Karl Korsch, Richard Sorge, Karl August Wittgofel, hingga Friedrich Polloch hadir di dalam pertemuan itu.

Weil di kemudian hari dikenal sebagai sponsor tunggal bagi pendirian Institut für Sozialforschung[7], Johan-Wolfgang/Frankfurt am Main Universität, yang banyak melahirkan pemikir besar seperti Theodor Adorno, Herbert Marcuse, hingga Jürgen Habermas.

Banyak bangunan tua yang masih mengesankan nuansa Marxisme-Leninisme. Terlebih ketika dilihat di malam hari. Ilmenau lebih nampak seperti kota mati. Di tengah taman kota, terdapat monumen bertuliskan DEN ILMENAUER OPFERN DES NATIONALSOZIALISMUS[8]. Di pinggir taman, tepatnya di dinding balai kota tertempel pengumuman mencolok mengenai perayaan 800 tahun kelahiran Saint Elisabeth yang diselenggarakan oleh pemerintah federal Thüringen bekerjasama dengan pemerintah federal Hesse, khususnya dengan kota Marburg, yang dulunya juga menjadi bagian dari Thüringen.

Thüringen berada di tengah Jerman, memiliki populasi 2,3 juta penduduk yang tersebar di area seluas 16.172 km². Istilah Thüringen mengacu pada Kerajaan Toringi yang berdiri pada tahun 400 SM. Thüringen mencakup beberapa kota penting dan pemikir berpengaruh. Weimar erat kaitannya dengan Goethe. Eisenach adalah tempat kelahiran Bach. Wartburg merupakan tempat di mana Marthin Luther menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman.

**

Lampu jalan menyala remang, meski masih membuat sekeliling jelas terlihat. Rombongan harus berjalan memutari stasiun, melewati halte, kemudian menyusuri rel kereta hingga bertemu warung kebab Turki yang masih buka hingga larut. Terlihat beberapa lelaki setengah baya dengan jambang dan jenggot sedang asyik bersenda gurau di dalamnya.

Seolah khilaf bahwa di negara bagian yang lain akan dilangsungkan G8 Summit 2007[9]. Hasan selalu berpikir nakal, “Seandainya panitia konferensi berkenan untuk memobilisasi 300an peserta yang berasal dari 100an negara di seluruh dunia, maka para aktivis NGO yang membuat acara tandingan bagi G8 Summit akan sangat terbantu, sekurangnya secara moril.”

Kurang-lebih 100 meter setelah warung kebab, terdapat pertigaan. Rombongan berbelok kiri dan masih harus menyusuri 500 meter sisa jalan menuju Mensa.

Jam dinding di Mensa menunjukkan pukul 11.50 malam waktu setempat. Hasan menahan kantuk dan lelah karena double jet lag yang mendera. Penerbangan internasional yang transit selama sepuluh jam di Abu Dhabi terlalu sedikit untuk membantu tubuh beradaptasi, sekaligus terlalu banyak untuk sekedar memulihkan tenaga. Penghangat ruangan di Mensa memaksa Hasan untuk kembali mengumpulkan tenaga.

Wir sind Hausherr, in Vertretung von Wiebke Jensen. Wir haben kein Gast. Können wir nehmen ihm als uns Gast?[10], tanya dua orang mahasiswi yang tiba-tiba berdiri di sebelah Hasan kepada panitia yang sedang duduk melihat daftar peserta.

Wir haben für vier Uhrzeit gewarten,[11]” imbuh seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di samping mahasiswi tadi.

Panitia gemuk yang membaca daftar peserta menjawab, „Es tut mir Leid. Sie sind sich verspäten und sind die erste Gruppe gekommen.[12]

„Was soll es sein? Man oder Frau?[13]

„Wer auch immer.[14]

Rauchen oder nicht rauchen[15]?”

Salahsatu dari kedua perempuan membalas, „Nicht rauchen[16].”

Tiba-tiba si gendut itu bertanya kepada Hasan, “What kind of host do you want? Man or women[17]?” Tanpa mengabaikan mahasiswa Nigeria yang berdiri antri di depan Hasan.

Whatever[18],” jawab Hasan pragmatis. Yang ia inginkan hanya tidur, meski sebelumnya sempat heran mengapa panitia tidak mendahulukan mahasiswa Nigeria yang antri di depannya.

Smoking or not[19]?

Not smoking[20],” walau Hasan seorang perokok. Ia berusaha untuk sama sekali tidak merokok di dalam konferensi ini. Berharap tidak lagi merokok ketika kembali ke Indonesia.

Okay. They are your host. And please fill this form, both of you and your host[21].”

Thank you[22],” jawab Hasan dengan sisa tenaga.

Hi, my name is Katja. And she is…[23]“, sapa seorang mahasiswi berambut panjang dengan ramah.

“Janin,” sela mahasiswi berambut a la Demi Moore yang berdiri tepat di samping Katja.

I am Hans. Let me bring your luggage so you can fill this form and then we can take you home[24],” tawaran kongkrit datang dari lelaki tadi.

He is Janin’s boyfriend,” Katja memotong untuk menjelaskan. Janin dan Hans hanya tersipu.

No, you don’t have too. I can bring it. Let’s fill the form. Do you have any pen?[25]“, sanggah Hasan dengan nada ewuh. Walau orangtuanya bukan etnis Jawa, Hasan terpengaruh oleh tradisi ewuh pakewuh. Barangkali karena sedang studi di Yogyakarta.

Setelah mereka menyelesaikan administrasi, ketiganya langsung menuju parkiran. Hasan beruntung, host yang didapatnya membawa mobil untuk ke apartemen. Udara dingin kembali menyerang.

Sebuah mobil bermerk Volkswagen membawa mereka berempat ke arah yang tadi telah dilewati Hasan. Hasan melihat ke tanda pengenal yang diberikan panitia:

Wiebke Jensen

Poststraβe 21, 98693 Ilmenau

0178 455 1056

 

“Why Jensen did not come with you to pick me up[26]?”, tanya Hasan curiga.

He is not in Ilmenau now. He went to his parent’s home two days ago for vacation. He’ll be back in the next few days[27],” Katja menjelaskan.

Rasa curiga Hasan takluk oleh rasa letih bercampur jam biologis yang kacau balau karena double jet lag.

“Buukkk…,” suara ban mobil menghantam trotoar. Hasan hanya hening dan berharap semoga tidak ada masalah, dengan mobil maupun dirinya nanti. “Sory, I didn’t see it[28],” Hans mencoba menenangkan tamunya. Minimnya sinar lampu jalan mampu menipu orang lokal.

Hasan menatap sebuah bangunan lima lantai yang lebih mirip dengan gedung kosong berhantu. Atau gedung bekas tempat pembantaian bagi musuh rejim komunis yang berkuasa pada paruh abad yang lalu.

This is our flate. It looks bad from the outside but good enough on the inside. I hope you won’t be scare[29],” Janin berusaha meyakinkan Hasan dengan nada guyon.

Hehehehe….Don’t worry. It’s good enough for me[30],” Hasan menyambut gayung guyon yang diayunkan.

Satu, dua, tiga lantai mereka naiki. Katja bergegas menuju pojok. Satu dari tiga pintu dia buka dengan cepat. Satu lorong panjang sekitar 2,5 meter diapit oleh kamar mandi basah dan kamar mandi kering berada di balik pintu. Lorong pertama ini berhimpit dengan lorong lain yang membujur. Satu pintu kamar, yang dihuni oleh Katja, hampir membentuk tusuk sate. “Hmm..,” gumam Hasan pelan.

Lorong kedua menghubungkan kamar Janin dengan kamar Jensen dan dapur. Di samping kamar Janin terdapat kamar Anna. Di antara kamar Katja dan Jensen terdapat kamar Maria. Hans hanya berkunjung untuk beberapa hari guna berlibur bersama Janin.

There are only us this night. You can use Maria’s room. But she will be back on Wednesday and then you’ve to sleep in the kitchen. Don’t worry, we’ll give you the mattress[31],” Janin berusaha ramah.

No, I bring my own sleeping bag[32],” Hasan menyanggah dengan maksud agar tuan rumahnya tahu bahwa ia sedari awal sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Okay,” jawab Janin.

Do you want to make phone call to tell your family that you already arrive safely?[33], Katja seolah turut mengimbangi keramahan Janin sebagai tuan rumah. Tak lama berselang, Janin dan Hans pamit untuk beristirahat setelah membantu memindahkan barang bawaan Hasan ke kamar Maria.

Yes, I do. But it would be better if I can just send an sms. I am afraid that I’ll disturb them if I make a phone call[34],” tawaran lain datang dari Hasan.

Katja mengeluarkan Siemens miliknya dan Hasan mulai mengetik:

“Bang sudah sampe.

Ini no hp tuan rumah.

Gak usah dibalas.

Maaf ganggu. Hasan.”

 

Hasan memasukkan nomor +6285292000174.

Okay, thank you[35].

You’re welcome[36].”

Can I use the bathroom? I want to clean myself and then take a rest, if you don’t mind[37],” Hasan memohon.

Just use it. Please enjoy yourself and feel like at home[38],” ujar Katja sembari tersenyum manis.

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 waktu setempat. Namun, tubuh Hasan masih kacau dalam merespon perubahan waktu. Selimut yang tersedia di kasur tidak cukup untuk menahan serangan dingin. Hasan dipaksa sengatan dingin untuk menggunakan sleeping bag TNI yang dijual bebas di depan KKO Marinir Cilandak seharga Rp 85.000,-

Pintu kamar Maria yang digunakan Hasan, entah mengapa, tidak dapat dirapatkan. Terlihat sosok Katja, menggunakan daster putih, berdiri di depan kamar sembari memastikan apakah tamunya sudah terlelap atau belum. Perlahan, ia melangkah dengan pasti ke dalam kamar. Dalam sekejap, dingin malam pada awal musim panas di Ilmenau telah berubah menjadi kehangatan cuaca tropis.

***

Ilmenau, Juni 2007; Yogyakarta, Januari 2009.


[1] “Cuaca ini biasa bagi kami di Moskow. Jadi, saya hanya butuh sweater ini.”

 

[2] Tetapi kami tidak lahir dan besar di Moskow. Dan itu sudah cukup menjelaskan

mengapa kami kini menggunakan pakaian lebih tebal daripada kamu.”

[3] International Student Woche in Ilmenau.

[4] “Apakah kalian semua peserta ISWI? Jika ya, silahkan taruh tas dan barang-barang

Anda ke dalam mobil dan kita akan berjalan ke kampus untuk check-in.”

[5] Kantin.

[6] Pekan Marxis Pertama.

[7] Institut Studi Sosial.

[8] Monumen Peringatan Orang-orang Korban Nazi di Ilmenau.

[9] KTT G8.

[10] “Kami salahsatu tuan rumah, atas nama Wiebke Jensen. Kami belum mendapat peserta untuk ditumpangi. Dapatkah kami menjadikan dia sebagai tamu kami?”

[11] “Kami sudah menunggu sejak empat jam yang lalu.”

[12] “Maafkan saya. Mereka terlambat sekaligus kelompok pertama yang baru datang.”

[13] “Siapa yang kamu inginkan? Laki-laki atau perempuan?”

[14] “Siapapun.”

[15] “Merokok atau tidak merokok?”

[16] “Tidak merokok.”

[17] “Siapa host yang kamu inginkan? Laki-laki atau perempuan?”

[18] “Siapapun.”

[19] “Merokok atau tidak?”

[20] “Tidak merokok.”

[21] “Oke. Mereka host-mu. Dan tolong isi formulir ini, baik kamu maupun host-mu.”

[22] “Terima kasih.”

[23] “Hai, nama saya Katja. Dan dia…”

[24] “Saya Hans. Biar saya bawa barang-barangmu agar kamu dapat mengisi formulir ini dan kemudian kami dapat membawa kamu ke rumah.”

[25] “Tidak, tidak usah. Saya dapat membawanya. Mari kita isi formulirnya.

Apakah kamu punya pulpen?”

[26] “Kenapa Jensen tidak ikut bersama kalian untuk menjemput saya?”

[27] “Dia sedang tidak di Ilmenau sekarang. Dia pulang ke rumah orangtuanya

untuk berlibur sejak dua hari yang lalu. Dia akan kembali dalam beberapa hari

ke depan.”

[28] “Maaf, saya tidak melihatnya.”

[29] “Ini flat kami. Kelihatannya memang jelek dari luar tetapi di dalamnya

cukup bagus. Saya harap kamu tidak akan takut.”

[30] “Jangan khawatir, ini cukup bagus untuk saya.”

[31] “Hanya ada kita malam ini. Kamu dapat menggunakan kamar Maria. Tapi dia akan

kembali pada hari Rabu dan kemudian kamu harus tidur di dapur. Jangan khawatir,

kami akan memberikan kamu kasur.”

[32] “Tidak, saya membawa sleeping bag.”

[33] “Apakah kamu ingin menelepon keluargamu untuk memberitahu bahwa kamu sudah sampai dengan selamat.”

[34] “Ya, tentu saja. Tapi akan lebih baik kalau saya hanya mengirim sms. Saya

khawatir akan mengganggu mereka kalau menelepon.”

[35] “Oke, terima kasih.”

[36] “Sama-sama.”

[37] “Dapatkah saya menggunakan kamar mandi? Saya ingin membersihkan diri dan kemudian

beristirahat, kalau kamu tidak keberatan.”

[38] “Gunakan saja. Santai dan anggap seperti di rumah sendiri.”

Advertisements

1 Comment

  1. 2010 in review « Kelindan Kata said,

    […] The busiest day of the year was January 15th with 28 views. The most popular post that day was Malam di Ilmenau. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: